Belum pernah saya membayangkan bahwa saya akan mengikuti perjalanan yang memakan waktu sekitar dua minggu untuk menjelajah Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jawa Timur. Selama ini, jalan- jalan yang saya lakukan tanpa orang tua (maklum saja anak rumahan) hanyalah di sekitar Jawa Barat dan Jawa Tengah, belum pernah sampai ke jawa timur. Paling lama saya pergi pun, hanya satu minggu. Mulanya agak sungkan meminta izin pada orang tua, takut tidak dibolehkan. Namun, ternyata orang tua membolehkan saja meskipun saya harus meninggalkan kuliah semester pendek saya untuk sementara.
Saya bersama calon anggota (caang) Mapala UI lainnya sejumlah kira-kira delapan puluh orang, melakukan banyak persiapan sebelum berangkat. Presentasi demi presentasi dilakukan dihadapan mentor untuk mengecek sejauh mana kesiapan perjalanan panjang ini- ya, kami menyebutnya perjalanan panjang. Tidak jarang Para mentor tidak lelah untuk memberikan masukan dan nasihat agar perjalan kami bisa berjalan lancar dan nyaman. Saya yang tadinya ada di bidang camp manager, harus berpindah ke bidang navigasi karena suatu alasan. Menyiapkan presentasi, menyiapkan latihan untuk teman-teman caang, membuat jalur, mem-plotting peta, dll, sudah menjadi kegiatan sehari-hari selama beberapa bulan terakhir ini. Waktu menjadi lebih banyak di habiskan di Pusgiwa (Pusat Kegiatan Mahasiswa), khususnya di ruang caang. Pulang larut malam sudah biasa. Semuanya demi perjalanan panjang.
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa hari keberangkatan sudah semakin dekat. Saya harus melakukan kumpul kelompok bersama kelompok kecil. Saya yang mendapatkan peran sebagai seksi konsumsi di kelompok 7, sangat antusias menyusun menu untuk perjalanan selama tujuh sampai delapan hari ini. Saya pernah menjadi seksi konsumsi di beberapa perjalanan sebelumnya, namun tentu rasanya berbeda dengan perjalanan yang hanya tiga atau emapat hari saja. Menyusun menunya cukup membingungkan. Membuat saya harus merubah susunan menu beberapa kali dengan pertimbangan melihat seberapa lama makanan tersebut bisa bertahan dalam keadaan di-packing di dalam carrier. Untungnya, teman-teman kelompok saya, yang berjumlah delapan orang, dan mentor-mentor saya membantu dengan senang hati.
Rabu, 24 Juni 2009, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Setelah sebelumnya melakukan packing bersama, kami berang dengan menggunakan bikun (bis kuning). Kami berangkat sore hari pukul 16.00. Upacara pelepasan sederhana di depan pusgiwa terasa lebih bermakna meskipun sebelumnya sudah diadakan upacara pelepasan oleh Rektor UI, Bapak Gumilar. Tujuh puluh enam caang dan beberapa mentor berangkat meninggalkan Pusgiwa untuk menuju Stasiun Tanah Abang. Begitu tiba di stasiun, kami naik kereta pukul 20.00 di gerbong paling belakang- gerbong yang memang sengaja dipesan untuk rombongan kami. Kami tiba di Jember pukul 22.00 keesokan harinya, lalu kami menuju sekretariat Mahapena (Mahasiswa Pecinta Alam FE UNEJ) dengan menggunakan truck. Kami menginap disana, paginya berbelanja di pasar untuk membeli bahan-bahan makanan, dan siangnya baru kami menuju kantor TNMB kemudian menuju checkpoint satu. Kami memiliki empat belas checkpoint yang harus dilewati sambil melakukan riset ekowisata dan akhirnya menuju checkpoint terakhir, Desa Bandaialit, untuk melakukan kegiatan bakti sosisal.
Perjalanan dimulai hari Sabtu, tanggal 27 Juni 2009. Kami berangkat pukul 07.00 dari camp pertama kami di desa Sumbermulya. Saya yang tergabung dalam tim navigasi, harus melakukan orientasi medan dan melakukan survey terlebih dahulu, satu jam lebih awal dari jam keberangkatan. Kondisi cuaca yang panas cukup membuat saya dan teman-teman caang cukup kaget. Bentangan alam yang kami lalui cukup bervariasi. Mulai dari pedesaan, perkebunan, ladang, hutan, sungai, dan pantai. Ada beberapa teman caang yang tidak bisa melanjutkan perjalanan dan akhirnya di-cut di beberapa tempat. Saya dan teman-teman yang masih tetap bisa melanjutkan merasa kehilangan, namun itu adalah keputusan yang tidak bisa diubah lagi.
Konflik tentu saja terjadi. Konflik antara sesama caang. Kadang, saya pun sleg baik dengan teman kelompok saya sendiri maupun teman diluar kelompok. Ada juga konflik antara caang dengan mentor yang disebabkan karena kelalaian caang. Hal ini sebenarnya wajar terjadi melihat kondisi fisik yang bisa jadi sedang tidak fit, kelelahan, dan masih banyak lagi. Namun, dibalik itu semua tentu terdapat banyak canda tawa, keceriaan, dan tingkah laku yang ajaib dari caang ataupun mentor yang bisa diingat dari perjalanan panjang ini.
Sampai akhirnya kami tiba di checkpoint terakhir pada hari Sabtu tanggal 4 Juli 2009, begitu banyak cerita yang bisa kami bawa pulang dan diceritakan. Semua yang telah terjadi selama perjalan panjang ini merupakan pengalaman berharga bagi saya dan bisa saya jadikan pelajaran berharga. Teman-teman caang yang lain pun pasti berpikir seperti itu. Tidak hanya baju kotor, bekas luka, dan kelelahan yang kami dapatkan, tapi banyak hal yang membuat kami semakin kaya. Perjalanan panjang, satu momen yang sangat sayang untuk dilewatkan.
*tulisan jaman saya jadi caang (calon anggota) MAPALA UI, lucu juga setelah dibaca lagi :))










Tidak ada komentar:
Posting Komentar