Seandainya aku bisa menyapamu sesuka hatiku, pasti sudah kulakukan.
Maafkan aku yang tidak melanjutkan perjuangan ini supaya kisah kita dimulai.
Ternyata aku lebih suka dikejar daripada mengejar. Karena mengejar imimpian-impianku lebih menarik dibandingkan mengejar kamu, tuan.
Tapi aku disini, diam-diam mengawasi setiap pergerakan yang kau buat.
Melihat keunikan-keunikan pada dirimu yang belum pernah kutemukan pada lelaki manapun.
Mengagumi kejujuranmu dalam menyatakan sesuatu.
Aku suka sekali langit dan semua benda-bendanya. Langit biru, awan-awan putih, pelangi, matahari, bintang, bahkan hujan.
Tapi aku jarang sekali mengungkapkannya. Karena takut dikira aneh dan bodoh jika suka bengong dan berlama-lama menatap langit.
Kamu, dengan lugasnya memuji-muji senja. Betapa kamu menyukai dan menikmati setiap detik dari apa yang disuguhkan oleh langit saat matahari akan terbenam.
Aku suka fajar, tuan. Aku adalah seseorang morning-person. Matahari terbit membuatku optimis dengan semangtnya setelah aku melewati malam yang dingin. Pagi itu berarti hari baru dimana selalu ada harapan dan petualangan yang baru.
Mau kutemani menikmati senja, tuan? Aku lumayan suka senja. Hangat dan penuh warna berbeda.
Mungkin nanti kamu pun bisa duduk menemaniku menyambut fajar datang setiap harinya.
Ah lupakan, tuan. Ini hanya angan-angan saya saja.
Saya tahu banyak gadis siap menyukai senja hanya karena engkau.
Dan saya tidak, senja tetaplah senja dengan atau tanpa kamu, tuan.
- Dari gadis yang menyukai fajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar