seorang gadis..
semalam gadis itu terlalu banyak berinteraksi dengan orang-orang. tanpa sadar, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.
setelah interaksi selesai, gadis itu tersadar ia belum melakukan kewajibannya, belajar. sebagai seorang mahasiswa, gadis itu harus belajar demi masa depan yang cerah. pengetahuannya akan setitik ilmu akan diuji besok. ia harus menghadapi sebuah, katakanlah kuis, untuk melanjutkan kehidupan perkuliahannya ke depannya. ia ingin yang terbaik untuk masa depannya. ia ingin hasil yang baik. hasil yang memuasan. memuaskan dahaganya akan ip bagus yang bisa membuatnya kembali sekedar ditengok oleh orangtuanya, orang yang sangat ia sayangi.
semangatnya tak putus, ia memutuskan untuk memulai kembali belajarnya pada malam itu. walaupun tadi siang ia sempat belajar sedikit dengan temannya,
walaupun begitu banyak hal yang meminta perhatiannya di pikirannya,
walaupun ia sudah kelelahan karena terlalu banyak membagi pikirannya,
walaupun ia sudah jenuh setelah terlalu banyak berinteraksi dengan orang-orang,
walaupun ia sudah bingung akan apa yang sedang terjadi,
walaupun matanya berat dan mengantuk seperti ditimpa beban berat yang tidak terlihat,
walaupun tempat tidurnya sudah teriak-teriak minta ditiduri,
walaupun badannya sudah menunjukkan tadan-tanda kelelahan,
walaupun tata cahaya di ruangan yang ia pakai untuk belajar tidak memenuhi standar, walaupun kepalanya pusing bukan main,,
walaupun..walaupun..
terlalu banyak walaupun tapi ia tetap semangat untuk belajar.
dibukanya buku yang ada di depannya.
buku itu bagaikan sebuah bantal yang tebalnya rasanya cocok untuk dijadikan alas tidur atau bahkan bisa sangat menyakiti jika dilemparkan ke makhluk hidup.
ia terus membaca. halaman demi halaman lembar demi lembar.
aah.. rupanya tulisan dalam buku itu terlalu kecil dan rapat untuk gadis seusiannya. tulisannnya yang hanya berwarna hitam tidak menarik membuatnya memincingkan mata. gadis itu berjuang sekeras yang ia mampu. ia tidak ingin semua hal yang menghambat belajarnya menjadi sebuah penghalang untuknya dalam meraih cita-cita.
tidak..!!
gadis itu kalah oleh rasa ngantuk yang sudah sangat berat itu. gadis itu kalah dengan rasa lelah yang ada di sekujur tubuhnya. ia pun terpejam, terlelap, dengan ditemani hembusan angin malam yang sudah semakin larut dan buku tebal yang masih terbuka disampingnya.
pagi..
ia terbangun.
bukan dengan tenaga yang penuh untuk melanjutkan perjuangan.
bukan dengan kondisi badan yang sudah hilang lelahnya.
bukan. bukan..
namun, ia masih memiliki semangat untuk berjuang. diangkatnya badannya dari tempat tidur. meskipun berat, ia melangkakhkan kaki menuju sumber air yang bisa membuatnya membasuh mukanya dan mendapat sedikit kesegaran. setelah itu, ia bertemu dengan Tuhannya. ia mengadu. mencurahkan semua yang ada. menumpahkan segalanya di depan Tuhannya. berdoa agar selalu diberikan semangat dalam menjalani hidup yang pernuh warna ini.
ia kembali pada kenyataan. ia harus menggunakan sisa-sisa semanga yang masih ada dalam dirinya untuk melanjutkan perjuanngnnya dalam mempelajari ilmu yang sangat ia sukai. terus dan terus berusaha mengerti dan memahami apa yang sesungguhnya ilmu itu berikan pada kehidupannya..
lagi..lagi-lagi datang gangguan. kali ini, waktu yang menyapa gadis itu. wah, rupanya waktu gadis itu untuk belajar pagi ini telah habis. gadis itu harus segera cepat-cepat menuju tempatnya menuntut ilmu dan mengadukan nasibnya tentang hasil belajarnya kemarin, siang, tadi malam,, dan sedikit di pagi ini. gadis itu kecewa menyadari sudah sesering apa pun ia bergelut dengan waktu, ia masih tetap belum bisa menghentikan waktu. ia tidak suka waktu untuknya belajar diambil. tapi sang waktu tidak mau tau. ia memang sudah datang di saat yang tepat. menurutnya, gadis itulah yang salah kenapa tidak bisa mengatur dirinya dengan baik dan memanfaatkannnya sebaik mungkin juga.
mau tidak mau, gadis itu pun beranjak, meninggalkan buku yang dibacanya. melakukan ritual sehari-hari di pagi hari. mandi, sarapan, pergi menunut ilmu. sebernarnya dalam hati, gadis itu sering berdoa semoga ia masih mampu dan bersemangat melakukan ritual yang menjadi ritual yang bisa dibilang membosankan selama berbulan-bulan kedepan. sarapan?! bahkan gadis itu tidak sempat mengisi perutnya yang membutuhkan asupan untuk badannya yang kelelahan. gadis itu meninggalkan rumah dengan perut kosong.
gadis itu sampai di tempat dimana ia biasa bertemu seorang temannya untuk pergi menuntut ilmu bersama-sama. tapi rupanya temannya belum datang. gadis itu menunggu dalam kesendirian ditengah ramainya kerumunan orang. ah, dimanfatkannya waktu oleh gadis itu. ia mengambil bukunya dan kembali terhanyut untuk berusaha menyelami ilmu yang ada dalam buku tersebut. semoga apa yang ia baca bisa berguna untuk mendukung langkahnya di kuisnya nanti, begitu harapnya.
temannya akhirnya datang. temannya datang dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah. namun, gadis itu tidak terlalu memikirkannya. ternyata temannya terlambat karena mengambil sebuah barang yang penting dalam proses belajarnya hari ini. bahan untuk mengerjakan tugas di kelas nanti. tak apalah.
pikiran gadis itu kembali tertuju pada sang waktu. ia harus sampai di tempat dimana ia ingin sekali menimba ilmu, kampusnya.
ooh.. kenapa.. kemacetan jalan yang ia dapati. membuatnya tidak bisa mengejar waktu yang terus barlari tanpa henti. dicoba dipercepat mobil yang ia kendarai, tapi tidak memungkinkan karena lalu lintas terlalu padat dan ramai.
pasrah..
haruskah gadis itu kalah lagi dengan sang waktu?
ia sudah berusaha semampu yang ia bisa. ia melanjutkan usahanya. ia kembali belajar dengan temannya sambil mengisi waktu. mencoba mengumpulkan ingatan-ingatan yang sudah dimasukkan ke otaknya sebelumnya. selama perjalanan, gadis itu tetap berjuang.
diparkirnya mobilnya sesampainya ia dikampus. turun dari mobilnya, ia langsung berlari secepat mungkin dengan temannya. berlari dengan membawa buku tebal, barang2, dan lain-lain. buku tebal, barang2, dan lain-lain itu mempersulit langkahnya. tapi gadis itu tidak peduli. ia terus berlari. berlari melewati tangga. berlari menuju pintu itu. pintu ruang kelasnya. dimana ia akan mengadu nasib.
tapi..ah..
harapannya sirna sudah. pintu ruang kelas sudah ditutup. sayup-sayup ia mendengar suara satu orang membacakan pertanyaan-pertanyaan yang merupakan soal kuisnya. ia terhenti di depan pintu ruang kelasnya. merilik teman-temannya yang ada di balik pintu ruang itu dengan tatapan iri dan melirik pada orang yang ia sebut dosen itu dengan tatapan nanar.
gadis itu ingin masuk ke dalam. ia ingin berada di ruang kelas itu. ia ingin duduk di kursi itu sambil memegang bolpen dengan selembar kertas kosong di depannya. ia ingin menuliskan buah pikirannya, hasil yang sudah ia pelajari beberapa hari ini. temannya pun ternyata berpikir sama.
jegkrek..pintu terbuka.
seorang wanita keluar dari kelas. ah, itu orang yang ia sebut dosen. temannya dan gadis itu memelas, memohon agar diizinkan masuk kelas. memohon, meskipun tidak bisa ikut kuis, tapi masih diizinkan untuk mengikuti pelajaran hari itu. bahkan, gadis itu dan temannya sudah seperti orang murahan yang menjual diri, rela masuk kelas tanpa di absen.
tapi, apa yang dilakukan wanita itu, ia malah mengeluarkan senyum yang bagi gadis itu dan temannya adalah sebuah senyum puas dan meremehkan. wanita itu nampaknya sangat menikmati ekrpresi gadis itu dan temannya yang mengemis minta masuk kelas. mungkin bagi wanita itu, semangat kedua muridnya itu adalah sebuah lelucon yang konyol. di jaman sekarang, masih ada mahasiswa yang datang terlambat tapi ingin tetap mengikuti proses belajar. wanita itu telah salah memiliki anggapan bahwa mahasiswa jaman sekarang tidak niat kuliah dan malah sengaja membolos. sangat pelik. ia tidak percaya pada ketulusan dua orang murid di depannya yang sungguh-sungguh ingin menuntut ilmu. ia melarang mahasiswanya untuk masuk ke dalam kelas lalu pergi meninggalkan siswanya begitu saja.
gadis itu terpukul.
apa ini yang disebut sebagai seorang pengajar?! seorang guru?! seorang dosen?! sungguh sedih hatinya mengetahui sikap dosennya itu. dosennya telah membuatnya sangat amat kecewa, marah, sedih, dan emosi-emosi negatif lainnya.
hei! aku ingin belajar.. tapi mengapa malah kau halangi? begitu suara hati gadis itu. apa yang sebenarnya kau inginkan? mendidik dan mengajar siswa-siswamu agar menjadi orang yang cerdas atau membuatnya bodoh? kenapa kau membuat siswamu terluka dengan mematahkan semangat merreka untuk belajar? bukankah siswa-siswamu berhak mendapatkan pengajaran? apa?! kau terbentur dengan aturan dengan dalih disiplin?! sungguh..mungkin belajar bagimu hanya formalitas saja. kau tidak sungguh-sungguh melihat ke dalam mata siswamu. kau bahkan tidak peduli dan tidak bertanya pada siswamu apa yang mebuat mereka terlambat. Kau telah dibutakan oleh aturan. kau tidak memberi apa yang merreka butuhkan. kau hanya taat pada peraturan yang kau buat sendiri dan menjebakmu untuk menjadi seseorang yang mengerti dan memahami arti pendidikan.
satu orang siswamu telah menganggapmu bukan seorang guru baginya. gadis itu..
melangkah pergi dengan air mata tertahan. matanya berlinang. rasanya semua beban, pikiran, dan perasaannya yang lelah menjadi memuncak dan akan tumpah pada saat itu juga. gadis itu menitikkan air mata tanpa ada seorang pun yang tau. bahkan, temannya sendiri yang ada di sampingnya dan sedang memaki-maki dosen fiktif itu.
gadis itu merindukan sosok seorang guru yang sebenarnya. gadis itu teringat sosok seseorang yang sangat ia kagumi, sosok guru sejarahnya. aah.. Indonesia memerlukan guru-guru yang lebih baik. guru yang seperti bapak, saya rasa..
sekarang gadis itu ingat, ia harus mengisi perutnya. ia menyayangi dirinya sendiri, ia harus memenuhi perutnya yang sudah berteriak. ia tidak mau tubuhnya yang sudah dipakainya untuk berjuang jatuh sakit, karena ia ingin melanjutkan perjuannya. gadis itu tidak akan kalah dengan wanita itu. tidak akan..
*perasaan tertolak gini ternyata menyakitkan yaa..sangat! sa..baaar buuu..!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar