Beberapa hari ini saya memikirkan banyak hal. Terlalu banyak. Sepertinya waktu saya terbuang hanya untuk menmikirkan ini memikirkan itu. Tenaga saya juga sampai habis. Anehnya saya tidak melakukan apa-apa. Moment yang saya rasa cukup unik dalam kehidupan saya selama dua puluh satu tahun ini. Saya merasa kehilangan gairah. Saya hanya berpikir apakah yang ini benar, apakah yang itu salah, tanpa membuat keputusan apa yang sebenarnya ingin saya lakukan. Saya seperti tidak punya pegangan.
Dalam pandangan saya, semua kelihatan kacau. Lulus kuliah belum tahu mau melanjutkan kemana. Entah kerja atau S2. Kerja pun tidak tahu maunya dimana. S2 tidak tahunya maunya spesialiasi apa. Melihat teman-teman yang sudah ini itu, membuat saya semakin tertekan. Waktu yang saya miliki untuk memikirkan ini pun rasanya tidak cukup karena harus dicekoki lagi dengan persoalan lain seperti Ibu yang tiba-tiba mengenalkan saya pada si anu dan si anu, ingin saya cepat menikah, ingin punya cucu, ingin saya jadi pns, ingin saya ke luar negeri. Sebetulnya ini hidup siapa yah? Saya punya teman-teman saya sendiri dan saya punya mimpi-mimpi saya yang ingin saya wujudkan. Hmmmm.
Rasanya jadi ingin menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, menyalahkan siapapun selain saya. Saya ingin pindah, saya ingin menjauh, saya ingin hal baru yang bisa membuka mata saya. Hal yang bisa membuat mata saya berbinar-binar dan jantung saya berdebar-debar ketika memikirkannya. Mungkin sudah kecenderungan saya untuk menjauhi hal-hal yang menyakiti saya.
‘Kalau sakit buat apa, lebih baik tidak kan?! Cari yang lebih menghargai’. Setiap ada masalah, saya ingin menjauh, ingin menghindar. Padahal saya tau itu hanya akan membuat perasaan saya membaik sementara waktu, bukan sepenuhnya. Saya ternyata tidak terbiasa menghadapi dan menyelesaikan masalah pada saat itu. Saya menjauh dulu, mengamati dengan jarak, mempertimbangkan reaksi orang-orang terdekat dan lingkungan sekitar, memikirkan apa tindakan yang tepat, baru kemudian berespon. Terdengar lambat memang untuk sesuatu yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Seperti hal ini. Dikejar-kejar dengan kenyataan kehidupan setelah lulus, kehidupan perempuan yang berusia “twenty something”, dan perintilan lainnya seperti isu pertemanan & organisasi, saudara perempuan, keluarga, bahkan kenangan dari masa lalu.
Mungkin sebenarnya saya hanya butuh waktu dan lebih banyak keberanian. Keberanian untuk mengambil keputusan langkah apa yang akan saya ambil dan berani bertanggung jawab atas pilihan-pilihan saya itu.
Disaat teman-teman saya melamar kera ke perusahaan bonafid dengan gaji tinggi di wilayah ibu kota ini, saya malah mencari pekerjaan-pekerjaan di luar jawa-di luar jakarta. Cliche memang alasannya, saya malas berhadapan dengan kemacetan setiap harinya. Saya ingin udara segar. Saya ingin orang-orang yang baru, bukan orang-orang yang melulu membuat saya ingin pergi. Di pelosok pedalaman mungkin lebih baik. Tidak ada sinyal. Tidak ada internet. Saya tidak perlu tau tentang hal-hal yang menyakitkan. Saya butuh ‘pindah’. Mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi apa yang saya tinggalkan sebelumnya. Karna saya sedih ketika saya tahu sayalah yang lemah. Saya lah yang ingin lari. Saya hanya ingin bahagia... dan siapa yang bisa melakukan itu untuk saya selain diri saya sendiri?! Begitu tadinya. Tapi saya kemudian berpikir lagi, untuk, yaa.. mencoba. Mencoba menghadapi apa yang harusnya saya hadapi. Bukannya menghindar. Mungkin hasilnya tidak akan terlalu buruk kan?! Siapa yang tahu..
Harusnya saya bersyukur. Hidup saya ini penuh dengan banyak warna. Saya diberi kesempatan untuk tumbuh dan belajar dari semua yang saya hadapi ini. Karena itu, saya akan coba hadapi.
Tidak sabar menunggu hari esok. Hari baru. Awal yang baru juga.
Anw. Selamat puasa semuanya.. semoga bulan yang penuh berkah ini menjadikan kita orang yang lebih baik :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar