Senin, 28 Juni 2010

Untuk seorang lelaki berbaju biru di tanggal 26 Juli

Surat bagian kedua (semua mulai tumbuh dan mekar)

Hari-hari perkuliahan pun datang. Aku dan kau sudah terpisah oleh kampus yang berbeda. Aku menjalani kehidupanku dan kau menjalani kehidupanmu. Namun, entah kenapa kau mencoba untuk kembali masuk. Caramu yang mengajakku jalan- oke aku akui kali ini kau sudah lebih berani, caramu yang menitipkan salam untukku lewat temanku, caramu yang bahkan aku tahu kau pernah meminta temanku untuk mencomblangimu denganku.. lagi-lagi aku masih harus kesal terhadapmu. Kenapa kau hanya mengumbar kata-kata. Sejujurnya saat itu, kalau kau datang dan memintanya langsung padaku pasti aku sudah memiliki jawaban yang bisa membuatmu senang. Kau selalu membuatku penasaran. Dan lagi-lagi aku mengeluarkan sikap pathetic ku yang pura-pura tidak peduli sehingga temanku yang melihatku pada saat itu pasti menyangka aku tidak berminat terhadapmu. Jual mahal seorang perempuan-kehebatan yang mungkin perlu disesali. Yah.. padahal saat itu aku sangat senang dengan ajakan-ajakanmu padaku tapi aku juga harus kecewa karena kau tidak kunjung memenuhinya. Aku yang salah ya terlalu berharap padamu? Kau yang membuatnya jadi seperti itu.
Liburan panjang tahun pertama datang. Entah kenapa tiba-tiba ada ajakan liburan dari teman-teman SMA-ku yang juga teman-temanmu. Aku agak bingung kenapa ide liburan bersama itu muncul karena seingatku teman-teman kita tidak cukup dekat. Meskipun teman-teman dekatku tidak jadi ikut, toh akhirnya aku memutuskan untuk tetap pergi ke Bandung untuk sekedar menuntaskan rasa penasaranku terhadap apa yang kemungkinan terjadi disaat kita liburan bersama. Hei.. dan ternyata memang kau tidak melakukan apa-apa disana-setelah berbagai caramu untuk masuk kembali dalam hidupku beberapa waktu kebelakang itu. Aku tidak habis pikir dan mati gaya kau buat. Lagi-lagi aku merasa kalah darimu. Tidak lama memang, tapi selama liburan beberapa hari itu aku sadar dirimu memang unik, menyegarkan, dan bisa membuatku tertawa dalam situasi yang menurutku mungkin agak aneh. Aku tahu kau memperhatikan kesukaanku dalam memakan cokelat, ya aku tahu. Kau datang ke rumahku setelah perjalanan pulang karena entah kenapa tiba-tiba di mobilku ada bagian yang sepertinya tergores-kau tidak datang sendiri melainkan tentu saja dengan beberapa orang lainnya. Aku senang kau datang. tapi sejujurnya aku tidak tahu kenapa aku harus senang dengan kedatanganmu itu. Dan akhirnya kau pun harus tahu sikapku yang ceroboh karena aku tidak sengaja memecahkan gelas di depanmu. Ahh, rasanya saat itu aku ingin melarikan diri saja saking malunya. Tapi kau nampaknya tenang-tenang saja.
Bulan berganti bulan. Kehadiranmu yang timbul tenggelam membuatku melupakan sejenak sosokmu. Perkenalan yang baru, tempat baru, suasana baru, dan tentu saja orang-orang yang baru. Ada sosok baru yang menarik perhatianku dan memintaku untuk kuamati. Datang lalu pergi. Kemudian datang lagi yang lainnya. Yah.. aku tidak terlalu memusingkan dirimu dan segala hal yang membuatku penasaran itu. Perhatianku teralihkan. Aku juga tidak ingin memusingkanmu lagi karena rasanya begitu membingungkan tidak bisa berbuat apa-apa terhadapmu.
Sampai akhirnya kau datang lagi. Datang dengan lebih intens dari sebelumnya. Mengganggu hari-hariku- menggangguku menyelesaikan tugasku tepat waktu karena sedikit-sedikit aku melihat layar hp untuk melihat adakah balasan pesan-pesan darimu dan membuatku tersenyum jika ternyata memang pesan itu darimu sehingga aku membalasnya lagi dengan penuh semangat dan menjadi tidak bisa berkonsentrasi. Memberikan perhatian-perhatian dengan caramu sendiri. Membuatku tertawa. Membuatku ingin mengenalmu lebih jauh. Memberikan keyakinan-keyakinan kepadaku, salah satunya untuk membuat SIM- yah tapi ini memang sebenarnya aku lakukan untuk membuktikan kepadamu bahwa aku bisa- memalukan! aku ingin dilihat olehmu, ingin ada dalam pandangan matamu. Obrolan-obrolan ringan yang menuruktu cukup manis. Menemaniku saat perjalanan mudik lebaran yang diisi dengan macet. Aku ingat saat itu kau menawariku untuk menelponku tapi kutolak. Lagi-lagi kuakui aku sangat senang tapi aku tidak bisa menjawab teleponmu karena ada bapak yang sedang menyetir di sebelahku, padahal jika bisa mungkin aku sudah melompat-lompat. Dan semua hal-hal itu yang membuatku akhirnya sedikit banyak mulai membuatku mengingatmu lagi, memasukkan namamu dalam daftar orang yang penting untukku, dan merindukanmu. Aku sangat ingin percaya bahwa kamu serius melakukan semua ini-bukan untuk mempermainkanku. Aku mengesampingkan jauh-jauh pikiran dimana jika kita bertemu nantinya setelah ini tetap janggal. Aku berharap kediaman-kediaman yang dulu ada diantara kau dan aku bisa hilang.

bersambung..

Tidak ada komentar: